Memasuki musim penghujan sekarang ini, ada beberapa hal yang agak memprihatinkan dan merisaukan kita. yaitu tentang jalan.
Seperti sama-sama kita maklumi, sebagian masyarakat Peranap menggantungkan mata pencaharian mereka di daerah Serangge, Pesajian, Punti Kayu, Simpang Lubuk Kandis, sungai Ubo dan daerah lainnya yang memang terletak agak jauh di bagian dalam Kecamatan Peranap.
Mereka-mereka ini ada yang memang menetap di daerah yang disebutkan tadi, namun ada pula yang "berulang" dari wilayah Peranap bagian "bawah" alias sekitar Pasar peranap. Meraka yang tinggal di daerah "atas" tadi menggunaka jalan untuk mengangkut hasil kebun mereka ke pabrik kelapa sawit dan ke juragan getah/karet di daerah "bawah", sementara mereka yang tinggal di "bawah" menggunakan jalanan ini untuk berdagang/ berjualan ke daerah "atas" tersebut. Hal ini biasa disebut orang Peranap dengan istilah BABELOK.
Kembali kepada persoalan jalan, mereka yang relatif sering menggunakan jalan seperti disebutkan diatas tadi, sekarang sering mengeluhkan kondisi jalan yang saban hari harus mereka lalui.
Keadaan ini disebabkan oleh adanya aktifitas transportasi truk kayu bertonase besar yang kerap melalui jalanan tersebut dimusim penghujan seperti sekarang ini. Pada waktu biasanya saja jalanan sudah parah oleh kegiatan lalu lalang truk ini, apalagi dimusim hujan seperti sekarang? begitu rata-rata kata masyarakat.
Tidak jarang, para pedagang yang kebanyakan ibu-ibu ini mesti menginap di jalanan di atas truk yang mengangkut mereka sebelum sampai ditujuan. Bahkan terkadang bisa mencapai dua malam atau lebih.
Hal ini ini kelihatannya sepele, namun menyangkut juga hajat hidup sebagian masyarakat kita.
Namun apalah daya kita, para pengambil kebijakan sepertinya tutup mata saja denga keadaan ini. sungguh ironi....
semoga setelah membaca postingan ini,(itu pun kalau ada yang baca), para pengambil kebijakan dapat lebih memperhatikan hal-hak seperti ini
SELAMAT DATANG..!
Terima kasih anda telah mengunjungi blog PERANAP.COM
Mari berbagi pengalaman dan pendapat disini ...
banyaklah buah perkara buah
buah mengkudu lekat di batang
banyaklah tuah perkara tuah
tuah melayu berkasih sayang..
Mari berbagi pengalaman dan pendapat disini ...
banyaklah buah perkara buah
buah mengkudu lekat di batang
banyaklah tuah perkara tuah
tuah melayu berkasih sayang..
Tampilkan postingan dengan label Peranap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peranap. Tampilkan semua postingan
Minggu, 05 Desember 2010
Selasa, 22 Juni 2010
PADANG MAKMUR
Padang Makmur, demikian insyaallah nama desa baru yang akan hadir di Kecamatan Peranap.
Adalah masyarakat di dua RW yakni RW 04 (sidodadi) dan RW 06 (lembah sago) yang beberapa waktu lalu mengadakan musyawarah untuk memekarkan wilayah dalam Kelurahan Peranap ini menjadi desa baru. Musyawarah yang dihadiri Bapak Lurah Peranap, Zainal Abidin, ini melahirkan beberapa point penting. Diantaranya, pertama,
warga di dua RW ini bersepakat untuk mendirikan sebuah desa baru yang mandiri. Kedua, desa yang akan dibentuk tersebut diberi nama PADANG MAKMUR. Diambil dari nama daerah Padang Timah, sebuah pusat pengembalaan ternak di Kelurahan Peranap, yang mudah-mudahan menjadi lebih makmur sebagaimana namanya.
Tersebutlah beberapa nama sebagai penggagas dan motor dari pemekaran ini. Mereka antara lain Bapak Lurah Peranap Zainal Abidin, M. Taher, Ratman, Raja Thamrin, Agus Fanri. Saya sendiri diamanahi menjadi sekretaris panitia pemekaran.
Apa yang menarik dari pemekaran wilayah ini?
Menurut saya, pemekaran tentulah memiliki tujuan agar wilayah yang dimekarkan dapat menjadi lebih sejahtera dari sebelumnya. Kehidupan bermasyarakat jadi lebih baik, beban masyarakat lebih ringan dan tata kelola pemerintahan menjadi lebih singkat dan cepat.
Dilihat dari aspek dan faktor pendukung, wilayah Padang Makmur ini memang memiliki sejumlah potensi. Empat buah tempat ibadah (Masjid/ Mushallah) berada di wilayah ini dari sekitar 18 yang terdapat di Kelurahan Peranap. Jarak ke Pasar Peranap hanya 0,5 km. Sekolah dan fasilitas olahraga untuk pemuda cukup memadai. Jarak ke Tempat Pemakaman Umum sekitar 500 meter. Jarak ke pusat kecamatan lebih kurang 1 km. Namun semua potensi yang ada ini hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka jika tidak dikelola dan didayagunakan secara tepat dan bijak.
Adalah masyarakat di dua RW yakni RW 04 (sidodadi) dan RW 06 (lembah sago) yang beberapa waktu lalu mengadakan musyawarah untuk memekarkan wilayah dalam Kelurahan Peranap ini menjadi desa baru. Musyawarah yang dihadiri Bapak Lurah Peranap, Zainal Abidin, ini melahirkan beberapa point penting. Diantaranya, pertama,
warga di dua RW ini bersepakat untuk mendirikan sebuah desa baru yang mandiri. Kedua, desa yang akan dibentuk tersebut diberi nama PADANG MAKMUR. Diambil dari nama daerah Padang Timah, sebuah pusat pengembalaan ternak di Kelurahan Peranap, yang mudah-mudahan menjadi lebih makmur sebagaimana namanya.
Tersebutlah beberapa nama sebagai penggagas dan motor dari pemekaran ini. Mereka antara lain Bapak Lurah Peranap Zainal Abidin, M. Taher, Ratman, Raja Thamrin, Agus Fanri. Saya sendiri diamanahi menjadi sekretaris panitia pemekaran.
Apa yang menarik dari pemekaran wilayah ini?
Menurut saya, pemekaran tentulah memiliki tujuan agar wilayah yang dimekarkan dapat menjadi lebih sejahtera dari sebelumnya. Kehidupan bermasyarakat jadi lebih baik, beban masyarakat lebih ringan dan tata kelola pemerintahan menjadi lebih singkat dan cepat.
Dilihat dari aspek dan faktor pendukung, wilayah Padang Makmur ini memang memiliki sejumlah potensi. Empat buah tempat ibadah (Masjid/ Mushallah) berada di wilayah ini dari sekitar 18 yang terdapat di Kelurahan Peranap. Jarak ke Pasar Peranap hanya 0,5 km. Sekolah dan fasilitas olahraga untuk pemuda cukup memadai. Jarak ke Tempat Pemakaman Umum sekitar 500 meter. Jarak ke pusat kecamatan lebih kurang 1 km. Namun semua potensi yang ada ini hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka jika tidak dikelola dan didayagunakan secara tepat dan bijak.
Label:
masjid agung,
padang makmur,
peluang,
Peranap
Senin, 21 Juni 2010
HEBOH PEMBAKARAN RUMAH

Setelah sekian waktu ( lebih kurang setahun, boss ) saya tidak menulis di blog ini, hari ini saya kembali teringat dan tiba-tiba merasa sangat ingin untuk kembali menulis.
Kali ini saya ingin bercerita tentang beberapa kejadian (sedikit misterius?) di Kecamatan Peranap belakangan ini. Kejadian tersebut
bermula dari musibah terbakarnya pasar peranap yang kemudian disusul oleh beberapa kali gagalnya usaha pembakaran rumah warga oleh orang tak dikenal. Nah hal terakhir inilah yang saya kategorikan 'sedikit misterius' tadi.
Beberapa orang warga yang saya jumpai mengaku heran dengan fenomena ini. Mulanya, kepanikan terjadi saat musibah kebakaran pasar Peranap yang terjadi sekitar pukul 00.30 dini hari tanggal 1 Juni 2010. Belum lagi hilang trauma, selang beberapa waktu sejumlah kejadian beruntun kembali berulang, membuat sejumlah orang menduga-duga dan berspekulasi. Kejadian-kejadian tersebut antara lain terbakarnya sejumlah pintu warung/ kedai dan rumah penduduk secara berurutan; gagalnya aksi pembakaran beberapa bengkel; dan terakhir, terbakarnya kamar mesin Mushallah Muqarabbin dan sebuah kamar mesin penduduk di Kampung Jawa. Modus dan kronologisnya hampir sama, yakni kejadian berlangsung malam hari dan beberapa saat sebelum kejadian sejumlah warga mengaku melihat orang tak dikenal berkeliaran di lokasi. Hebatnya lagi, di daerah Kampung Jawa masyarakat berhasil menggagalkan aksi pelaku dan berhasil mendapatkan sejumlah barang bukti berupa kain yang sedang terbakar yang digantung di dinding rumah dan botol yang berisi minyak tanah.
Menurut Kepala Lingkungan II Kelurahan Peranap, M. Taher, desas desus ditengah masyarakat semakin beragam. Ada yang menduga hal ini adalah ulah orang stress akibat kebakaran pasar tempo hari, namun tidak sedikit pula yang beranggapan ini dikarenakan ulah orang yang sedang melakukan pengetesan terhadap ilmu hitam yang dituntutnya. Wallahu 'alam bishshawaf...
Menurut pantauan saya, cerita tentang kejadian ini memang telah mengalahkan hiruk pikuk nya pesta sepakbola terbesar sejagad piala dunia 2010 di Afrika Selatan dan hingar bingar nya pemberitaan video mesum yang (sampai sejauh ini masih diduga) dilakukan oleh orang mirip artis beken Ariel Peterpan dan Luna Maya serta Cut Tari. Hehe..
Tidak kurang dari mulai Pak Camat, Pak Kapolsek, Lurah dan ninik mamak menaruh perhatian serius terhadap masalah ini. Saat ini memang telah berlaku ronda malam di hampir setiap penjuru Kelurahan Peranap. Semoga peristiwa ini cepat berlalu dan si pelaku dapat tertangkap dan mempertanggung jawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku. Apapun itu, saya yakin rencana Allah jauh lebih hebat dari rencana siapapun jua. Percayalah...
Label:
bencana,
ilmu hitam,
kebakaran,
kriminal,
magic,
pasar peranap terbakar,
Peranap,
peristiwa besar,
teror
Jumat, 16 Januari 2009
MANUSIA TANPA BEBAN
Barangkali ada yang terkejut membaca judul posting saya kali ini. Betapa tidak, manusia tanpa beban, memang ada?. Tapi inilah kenyataannya. Saya sendiri kalau tidak sempat mengenal manusia satu ini, barangkali juga tidak akan percaya.
Adalah seorang sahabat yang saya kenal sejak masa kuliah dulu yang selalu terlihat apa adanya. Tanpa sesuatu yang dibuat-buat. Bahkan hampir-hampir tidak memiliki beban atau target apapun dalam kehidupannya. Mau tugas seberat apapun dari dosen, mau kesibukan teman-teman lain seperti apa, dia sama sekali tidak terpengaruh dan hanya menjalani rutinitasnya saja. Sepintas terlihat memang agak pendiam dan jarang tersenyum. Tapi semua kesan itu akan sirna dengan sendirinya dan bahkan akan terjadi kebalikannya, jika kita sudah terlibat pembicaraan dan tukar fikiran dengan beliau. Cerita apapun akan nyambung dan jadi topik menarik dari mulutnya. Bicara sosial, politik, budaya, bahasa, pemerintahan, agama, filsafat semua dikuasainya. Tak mengherankan jika kemudian banyak yang menjadikannya semacam "perpustakaan hidup" atau "literatur bejalan". Yang agak mengherankan saya adalah disiplin ilmu yang dipilihnya, yakni Akuntansi pada Fakultas Ekonomi UNRI yang beliau selesaikan dengan gilang gemilang.
Saya hampir tak pernah meliahat dia pacaran, bahkan kami- saya dan rekan sepergaulannya-mengira jangan-jangan dia tak tertarik dengan lawan jenis. Untunglah sekarang dia sudah punya putra dengan istri yang juga amat mencintai dan mengerti dia apa adanya. Ah sahabatku...
Sebagai sahabat sebenarnya dia sangat care dan mau berbagi.
Menurut informasi yang saya dengar ini semua tidak terlepas dari pola didikan kedua orang tuanya yang seorang kepala sekolah. Sebagai saudara tertua di keluarganya, dia juga sudah memberi contoh yang lumayan sempurna bagi semua adik-adiknya. Catatan akademis mereka adik beradik sekeluarga sungguh sangat fantastis!. Mereka sekeluarga terkenal sebagai "keluarga langganan juara umum" di sekolah masing-masing. Entah sudah berapa piala yang mereka bawa pulang.
Sengaja saya posting artikel ini sebagai penghargaan atas sahabat saya satu ini. Sebenarnya saya tidak terbiasa memuji apalagi menyanjung orang. Tapi ini semua adalah kenyataan dan faktanya. Jadi mau bagaimana lagi. Orang seperti beliau yang sudah ditawari bekerja oleh banyak instansi, baik pemerintah, swasta bahkan di kantor gubernur. Tapi entah kenapa dia lebih memilih hidup secara amat bersahaja bersama istri dan putranya di kampung sekarang ini. Entahlah saya tidak tahu alasannya. Teman yang satu ini memang penuh misteri bagi saya. Terkadang saya "iri" juga melihatnya. Hampir tidak pernah saya temui orang seperti Indra Hasbi,SE,Ak- demikian nama teman saya ini- dalam kehidupan saya.
Adalah seorang sahabat yang saya kenal sejak masa kuliah dulu yang selalu terlihat apa adanya. Tanpa sesuatu yang dibuat-buat. Bahkan hampir-hampir tidak memiliki beban atau target apapun dalam kehidupannya. Mau tugas seberat apapun dari dosen, mau kesibukan teman-teman lain seperti apa, dia sama sekali tidak terpengaruh dan hanya menjalani rutinitasnya saja. Sepintas terlihat memang agak pendiam dan jarang tersenyum. Tapi semua kesan itu akan sirna dengan sendirinya dan bahkan akan terjadi kebalikannya, jika kita sudah terlibat pembicaraan dan tukar fikiran dengan beliau. Cerita apapun akan nyambung dan jadi topik menarik dari mulutnya. Bicara sosial, politik, budaya, bahasa, pemerintahan, agama, filsafat semua dikuasainya. Tak mengherankan jika kemudian banyak yang menjadikannya semacam "perpustakaan hidup" atau "literatur bejalan". Yang agak mengherankan saya adalah disiplin ilmu yang dipilihnya, yakni Akuntansi pada Fakultas Ekonomi UNRI yang beliau selesaikan dengan gilang gemilang.
Saya hampir tak pernah meliahat dia pacaran, bahkan kami- saya dan rekan sepergaulannya-mengira jangan-jangan dia tak tertarik dengan lawan jenis. Untunglah sekarang dia sudah punya putra dengan istri yang juga amat mencintai dan mengerti dia apa adanya. Ah sahabatku...
Sebagai sahabat sebenarnya dia sangat care dan mau berbagi.
Menurut informasi yang saya dengar ini semua tidak terlepas dari pola didikan kedua orang tuanya yang seorang kepala sekolah. Sebagai saudara tertua di keluarganya, dia juga sudah memberi contoh yang lumayan sempurna bagi semua adik-adiknya. Catatan akademis mereka adik beradik sekeluarga sungguh sangat fantastis!. Mereka sekeluarga terkenal sebagai "keluarga langganan juara umum" di sekolah masing-masing. Entah sudah berapa piala yang mereka bawa pulang.
Sengaja saya posting artikel ini sebagai penghargaan atas sahabat saya satu ini. Sebenarnya saya tidak terbiasa memuji apalagi menyanjung orang. Tapi ini semua adalah kenyataan dan faktanya. Jadi mau bagaimana lagi. Orang seperti beliau yang sudah ditawari bekerja oleh banyak instansi, baik pemerintah, swasta bahkan di kantor gubernur. Tapi entah kenapa dia lebih memilih hidup secara amat bersahaja bersama istri dan putranya di kampung sekarang ini. Entahlah saya tidak tahu alasannya. Teman yang satu ini memang penuh misteri bagi saya. Terkadang saya "iri" juga melihatnya. Hampir tidak pernah saya temui orang seperti Indra Hasbi,SE,Ak- demikian nama teman saya ini- dalam kehidupan saya.
Kamis, 15 Januari 2009
BRI PERANAP TAK PROFESIONAL
Bank Rakyat Indonesia unit Peranap tidak profesional, demijian kesimpulan saya. Ceritanya bermula ketika pada tanggal 5 Januari yang lalu, saya mengirim uang untuk keperluan putra sulung saya yang sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Bantan Tua Bengkalis.
Uang tersebut saya kirim kepada rekening adik ipar saya di Bengkalis melalui BRI UNIT PERANAP. Namun setelah menunggu sampai hari ini (15/1) uang tersebut belum juga masuk ke rekening dimaksud. Saya pun lalu mendatangi BRI menanyakan duduk persoalannya. Saya lalu dilayani seorang karyawati. Setelah saya perlihatkan lembar kuning slip tranfer, eh tahu tahu sang karyawati dengan enteng berkata "mau diambil uangnya, apa dilanjutkan tranfernya, bang?". Saya jadi bingung dan balik bertanya "belum jadi dikirim, ya buk?". Kata si karyawati sih sudah, tapi balik lagi. Memang pada hari saya mentransfer tidak satupun aplikasi yang di validasi, termasuk aplikasi saya. "mau nya kemarin abang tahu kode bank nya" karyawati itu melanjutkan ocehannya. Saya jadi geram mendengarnya. Untung saya masih bisa bersikap sabar. "sekarang abang fotokopi KTP dan beli materai rp 6000, agar bisa kita proses" lanjutnya tanpa mempedulikan kekecewaan saya. Karena ingin selesai cepat, saya lalu menurut saja tanpa sempat bertanya.
Yang membuat saya amat kecewa adalah tidak adanya penjelasan maupun keteranga apa pun dari pihak bank. Kalau dinilai dari jumlahnya, barangkali kiriman saya tak ada arti bagi karyawati itu, hanya lima ratus ribu rupiah. Tapi bagi kami amat sangat bernilai, mengingat uang tersebut dibutuhkan untuk kelanjutan "hidup" anak saya di "rantau".
Sudahlah tanpa penjelasan, urusannya berbelit, eh saya masih dibebankan ongkos kirim sekali lagi sebesar dua belas ribu rupiah. Padahal sewaktu transfer tanggal 5 Januari itu pun saya sudah dibebankan ongkos kirim sejumlah yang sama. Ternyata apa yang jadi slogan atau motto dari BRI belum difahami dan dihayati oleh karyawannya sendiri. Baru sebatas kalimat pembentuk imej belaka.
Uang tersebut saya kirim kepada rekening adik ipar saya di Bengkalis melalui BRI UNIT PERANAP. Namun setelah menunggu sampai hari ini (15/1) uang tersebut belum juga masuk ke rekening dimaksud. Saya pun lalu mendatangi BRI menanyakan duduk persoalannya. Saya lalu dilayani seorang karyawati. Setelah saya perlihatkan lembar kuning slip tranfer, eh tahu tahu sang karyawati dengan enteng berkata "mau diambil uangnya, apa dilanjutkan tranfernya, bang?". Saya jadi bingung dan balik bertanya "belum jadi dikirim, ya buk?". Kata si karyawati sih sudah, tapi balik lagi. Memang pada hari saya mentransfer tidak satupun aplikasi yang di validasi, termasuk aplikasi saya. "mau nya kemarin abang tahu kode bank nya" karyawati itu melanjutkan ocehannya. Saya jadi geram mendengarnya. Untung saya masih bisa bersikap sabar. "sekarang abang fotokopi KTP dan beli materai rp 6000, agar bisa kita proses" lanjutnya tanpa mempedulikan kekecewaan saya. Karena ingin selesai cepat, saya lalu menurut saja tanpa sempat bertanya.
Yang membuat saya amat kecewa adalah tidak adanya penjelasan maupun keteranga apa pun dari pihak bank. Kalau dinilai dari jumlahnya, barangkali kiriman saya tak ada arti bagi karyawati itu, hanya lima ratus ribu rupiah. Tapi bagi kami amat sangat bernilai, mengingat uang tersebut dibutuhkan untuk kelanjutan "hidup" anak saya di "rantau".
Sudahlah tanpa penjelasan, urusannya berbelit, eh saya masih dibebankan ongkos kirim sekali lagi sebesar dua belas ribu rupiah. Padahal sewaktu transfer tanggal 5 Januari itu pun saya sudah dibebankan ongkos kirim sejumlah yang sama. Ternyata apa yang jadi slogan atau motto dari BRI belum difahami dan dihayati oleh karyawannya sendiri. Baru sebatas kalimat pembentuk imej belaka.
Selasa, 06 Januari 2009
TAHUN BARU
Alhamdulillah, itulah kata pertama yang terlontar dari mulut saya begitu tahu signal internet indosat sudah online lagi. Sekedar diketahui, sejak tanggal 31 Desember 2008 yang lalu, pengguna indosat di Peranap dan sekitarnya hanya dapat menikmati panggilan telepon biasa dan layanan sms saja. Padahal dengan program internet murah nya, indosat melalui im3 telah meraup pelanggan yang tidak sedikit di Peranap. Sebagian besar teman saya langsung membeli kartu perdana im3 dan mengaktifasi setting di hp mereka. Produk lain bukan tidak ada, tetapi relatif lebih mahal. Karena tidak dapat mengakses internet itu pula, blog saya tidak dapat di update belakangan ini.
Tetapi sudahlah, sekarang semua sudah normal kembali. Kecuali satu, yakni kesibukan saya yang akhir-akhir ini memang agak meningkat. Kebetulan saya diminta untuk mencarikan penceramah dan pengisi acara untuk beberapa masjid dan mushalla di sekitar tempat tinggal kami. Mengingat momen nya dalam suasana peringatan tahun baru hijriah, kebanyakan penceramah di Peranap juga sibuk.Sebisa saya sudah saya coba untuk melaksanakan amanah yang dipercayakan tersebut. Sekali lagi, alhamdulillah, semuanya lancar. Khusus untuk Masjid Agung Miftahuljannah, kami berhasil menghadirkan penceramah dari ibukota propinsi. Ustadz Syafrial Alidin, S.Ag, M.Ag dari Pekanbaru.
Kemudian melalui blog ini saya juga ingin mengucapkan " selamat tahun baru hijriah, 1 Muharram 1430 H". Semoga ditahun yang baru ini Allah swt berkenan melimpahkan lebih banyak lagi nikmat dan karunia-Nya kepada kita, menjauhkan bala dan marabahaya dari kita, memperteguh iman dan aqidah kita serta mengabulkan do'a, harapan dan cita-cita kita. Semoga...
(tulisan ini baru dapat saya terbitkan hari ini, setelah sejak tanggal 4 januari yang lalu berbentuk draft)
Tetapi sudahlah, sekarang semua sudah normal kembali. Kecuali satu, yakni kesibukan saya yang akhir-akhir ini memang agak meningkat. Kebetulan saya diminta untuk mencarikan penceramah dan pengisi acara untuk beberapa masjid dan mushalla di sekitar tempat tinggal kami. Mengingat momen nya dalam suasana peringatan tahun baru hijriah, kebanyakan penceramah di Peranap juga sibuk.Sebisa saya sudah saya coba untuk melaksanakan amanah yang dipercayakan tersebut. Sekali lagi, alhamdulillah, semuanya lancar. Khusus untuk Masjid Agung Miftahuljannah, kami berhasil menghadirkan penceramah dari ibukota propinsi. Ustadz Syafrial Alidin, S.Ag, M.Ag dari Pekanbaru.
Kemudian melalui blog ini saya juga ingin mengucapkan " selamat tahun baru hijriah, 1 Muharram 1430 H". Semoga ditahun yang baru ini Allah swt berkenan melimpahkan lebih banyak lagi nikmat dan karunia-Nya kepada kita, menjauhkan bala dan marabahaya dari kita, memperteguh iman dan aqidah kita serta mengabulkan do'a, harapan dan cita-cita kita. Semoga...
(tulisan ini baru dapat saya terbitkan hari ini, setelah sejak tanggal 4 januari yang lalu berbentuk draft)
Label:
harapan,
hijrah,
masjid agung,
muharram,
Peranap,
syafrial alidin,
tahun baru
Kamis, 20 November 2008
W A S P A D A
Menyimak berbagai kejadian akhir-akhir ini di Peranap dan sekitarnya, tidak salah jika saya mengatakan "Waspada" untuk itu semua.
Ada beberapa hal yang menurut saya patut kita waspadai. Pertama adalah waspadai fenomena alam. Hampir setiap malam sekarang terjadi hujan lebat disertai angin. Perhatikan sekitar tempat tinggal kita. Apakah ada pohon besar atau ada jaringan kabel listrik yang akan membahayakan kita? Perlu pula kita mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana alam (banjir, angin ribut) dsb. Meski tidak satu orang pun dari kita berharap itu terjadi.
Kedua, waspadai tindak kriminalitas di sekitar kita. Sebagai akibat dari melemahnya ekonomi masyarakat kita belakangan ini karena dampak krisis ekonomi, hal ini patut juga diwaspadai. Tindakan pencurian baik dilingkungan pemukiman warga maupun di kebun (karet dan sawit) jangan hendaknya terjadi. Kondisi ekonomi seperti sekarang ditambah musim hujan dan PLN sering mati tanpa aba-aba membuka peluang bagi pelaku kriminal beraksi. Periksa dengan teliti alat pengamanan rumah sebelum bepergian/ meninggalkan rumah dan sebelum tidur malam hari. Persempit ruang gerak tindak kejahatan terjadi, dan jangan diberi peluang. Sebaiknya tidak menyimpan uang tunai dan perhiasan secara berlebihan di rumah. Laporkan segera jika melihat orang asing atau yang mencurigakan berkeliaran di lingkungan kita.
Kemudian yang ketiga, waspadai isu dan kabar bohong yang dihembuskan pihak yang tidak bertanggung jawab. Biasanya mendekati pesta demokrasi yang akan digelar beberapa bulan kedepan, sering tersiar isu yang dapat memecah belah dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Antara sesama kita terkadang di adu domba. Fitnah terkadang dijadikan alat oleh sebagian orang untuk mencapai tujuannya. Mereka tidak berfikir akibatnya buat masyarakat tapi keuntungan sesaat buat golongan mereka saja. Bahkan tidak jarang pula masyarakat di buat resah dengan kabar semisal "orang hitam", kuntilanak, "kangkung eak?" dan lain sejenisnya.
Jangan mudah percaya begitu saja. Selidiki dulu asal usulnya. Gunakan logika dan akal sehat kita. Jangan ikut menyebarkan sebuah berita jika kita sendiri tidak yakin kebenarannya.
Demikian barangkali sedikit renungan bagi kita. Sebenarnya masih ada yang belum tertuang dari kepala saya kedalam tulisan tentang hal ini. Namun mengingat suara mengaji dari Masjid Raya dan Masjid Agung sudah terdengar (subuh), dan gadis bungsu saya terbangun, jadi saya cukupkan sampai disini dulu. Harapan saya tulisan ini ada manfaatnya dan saya tetap berkesempatan menulis lagi nantinya.
Seperti petuah orang dahulu, ingat sebelum kena. Mudah-mudahan kalau kita ingat dan waspada kita dapat terhindar dari hal-hal yang merugikan kita.
Kepada Allah SWT jualah kita memohon perlindungan dan pertolongan. Semoga kita dijauhkan dari segala marabahaya. Amin...
Ada beberapa hal yang menurut saya patut kita waspadai. Pertama adalah waspadai fenomena alam. Hampir setiap malam sekarang terjadi hujan lebat disertai angin. Perhatikan sekitar tempat tinggal kita. Apakah ada pohon besar atau ada jaringan kabel listrik yang akan membahayakan kita? Perlu pula kita mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana alam (banjir, angin ribut) dsb. Meski tidak satu orang pun dari kita berharap itu terjadi.
Kedua, waspadai tindak kriminalitas di sekitar kita. Sebagai akibat dari melemahnya ekonomi masyarakat kita belakangan ini karena dampak krisis ekonomi, hal ini patut juga diwaspadai. Tindakan pencurian baik dilingkungan pemukiman warga maupun di kebun (karet dan sawit) jangan hendaknya terjadi. Kondisi ekonomi seperti sekarang ditambah musim hujan dan PLN sering mati tanpa aba-aba membuka peluang bagi pelaku kriminal beraksi. Periksa dengan teliti alat pengamanan rumah sebelum bepergian/ meninggalkan rumah dan sebelum tidur malam hari. Persempit ruang gerak tindak kejahatan terjadi, dan jangan diberi peluang. Sebaiknya tidak menyimpan uang tunai dan perhiasan secara berlebihan di rumah. Laporkan segera jika melihat orang asing atau yang mencurigakan berkeliaran di lingkungan kita.
Kemudian yang ketiga, waspadai isu dan kabar bohong yang dihembuskan pihak yang tidak bertanggung jawab. Biasanya mendekati pesta demokrasi yang akan digelar beberapa bulan kedepan, sering tersiar isu yang dapat memecah belah dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Antara sesama kita terkadang di adu domba. Fitnah terkadang dijadikan alat oleh sebagian orang untuk mencapai tujuannya. Mereka tidak berfikir akibatnya buat masyarakat tapi keuntungan sesaat buat golongan mereka saja. Bahkan tidak jarang pula masyarakat di buat resah dengan kabar semisal "orang hitam", kuntilanak, "kangkung eak?" dan lain sejenisnya.
Jangan mudah percaya begitu saja. Selidiki dulu asal usulnya. Gunakan logika dan akal sehat kita. Jangan ikut menyebarkan sebuah berita jika kita sendiri tidak yakin kebenarannya.
Demikian barangkali sedikit renungan bagi kita. Sebenarnya masih ada yang belum tertuang dari kepala saya kedalam tulisan tentang hal ini. Namun mengingat suara mengaji dari Masjid Raya dan Masjid Agung sudah terdengar (subuh), dan gadis bungsu saya terbangun, jadi saya cukupkan sampai disini dulu. Harapan saya tulisan ini ada manfaatnya dan saya tetap berkesempatan menulis lagi nantinya.
Seperti petuah orang dahulu, ingat sebelum kena. Mudah-mudahan kalau kita ingat dan waspada kita dapat terhindar dari hal-hal yang merugikan kita.
Kepada Allah SWT jualah kita memohon perlindungan dan pertolongan. Semoga kita dijauhkan dari segala marabahaya. Amin...
Rabu, 19 November 2008
PLTU BATUBARA PERANAP DAN PELUANG KITA
Beberapa waktu yang lalu, sebagian masyarakat Peranap kembali disibukkan dengan kasak kusuk tentang akan segera dimulainya pembangunan tahap awal PLTU. Setelah sekian lama tak terdengar, kabar ini kembali beredar.
Saya mengamati tanggapan masyarakat amat beragam. Ada yang masa bodoh. Ada yang sibuk membersihkan dan mengukur ulang tanah mereka yang di prediksi bakal terkena proyek ini, tentu saja sambil berharap ganti rugi. Ada pula yang sibuk membeli tanah warga lainnya. Sebagian lainnya malah tidak yakin dalam waktu dekat ini akan terlaksana, mengingat kabar seperti itu sudah amat sering beredar. Entahlah..
Namun yang agak ganjil adalah hampir tidak terdengar masyarakat mempersiapkan sumber daya manusia yang handal dalam menanti proyek ini. Nyaris tidak ada kabar warga menyekolahkan putra - putri mereka ke sekolah ataupun perguruan tinggi di bidang pertambangan dan energi sejak pertama kali kabar mengenai batubara dan PLTU ini diketahui masyarakat. Padahal potensi kandungan batubara di perut bumi Peranap demikian besar. Jika memang nanti selain mengeksplorasi cadangan batubara nya, pemerintah juga membangun PLTU untuk kebutuhan listrik sumatera bagian timur itu benar - benar terwujud, maka dipastikan akan menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit jumlahnya dan tentu saja dalam jangka waktu yang lama.
Cukup puaskah kita hanya menerima sekedar ganti rugi? Lalu menjadi penonton di lapangan sendiri. Ataukah kita hanya perlu berharap dapat "menumpang kerja" di proyek itu pada jenis pekerjaan kasar yang tidak terlalu membutuhkan skill dan keterampilan?
Kalau demikian adanya, maka tujuan pembangunan yang diharapkan pemerintah yakni menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat tidak akan tercapai.
Semestinya masyarakat lebih jeli menangkap peluang dalam setiap tahapan pembangunan yang dicanangkan pemerintah.
Kita semestinya jangan terbuai oleh harga tanah dan sewa rumah yang mungkin akan lebih tinggi dari sebelumnya. Kita juga harus mempersiapkan sejak dini tenaga - tenaga terampil dari sekitar kita. Masih tersedia waktu yang cukup untuk mempersiapkan sdm - sdm tempatan di bidang itu nantinya. Belum terlambat untuk saling mengingatkan dan mengubah cara pandang kita. Rasa optimisme dikalangan kita harus segera dibangkitkan bahwa pembangunan ini nantinya akan membawa sebesar - besar kemakmuran dan kesejahteraan buat masyarakat Peranap jika kita siap.
Demikianlah barangkali sedikit buah pemikiran dari saya. Semoga tulisan ini dapat lebih membuka mata dan wawasan kita sebagai jatidiri Peranap dalam menyikapi pembangunan oleh pemerintah..
Saya mengamati tanggapan masyarakat amat beragam. Ada yang masa bodoh. Ada yang sibuk membersihkan dan mengukur ulang tanah mereka yang di prediksi bakal terkena proyek ini, tentu saja sambil berharap ganti rugi. Ada pula yang sibuk membeli tanah warga lainnya. Sebagian lainnya malah tidak yakin dalam waktu dekat ini akan terlaksana, mengingat kabar seperti itu sudah amat sering beredar. Entahlah..
Namun yang agak ganjil adalah hampir tidak terdengar masyarakat mempersiapkan sumber daya manusia yang handal dalam menanti proyek ini. Nyaris tidak ada kabar warga menyekolahkan putra - putri mereka ke sekolah ataupun perguruan tinggi di bidang pertambangan dan energi sejak pertama kali kabar mengenai batubara dan PLTU ini diketahui masyarakat. Padahal potensi kandungan batubara di perut bumi Peranap demikian besar. Jika memang nanti selain mengeksplorasi cadangan batubara nya, pemerintah juga membangun PLTU untuk kebutuhan listrik sumatera bagian timur itu benar - benar terwujud, maka dipastikan akan menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit jumlahnya dan tentu saja dalam jangka waktu yang lama.
Cukup puaskah kita hanya menerima sekedar ganti rugi? Lalu menjadi penonton di lapangan sendiri. Ataukah kita hanya perlu berharap dapat "menumpang kerja" di proyek itu pada jenis pekerjaan kasar yang tidak terlalu membutuhkan skill dan keterampilan?
Kalau demikian adanya, maka tujuan pembangunan yang diharapkan pemerintah yakni menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat tidak akan tercapai.
Semestinya masyarakat lebih jeli menangkap peluang dalam setiap tahapan pembangunan yang dicanangkan pemerintah.
Kita semestinya jangan terbuai oleh harga tanah dan sewa rumah yang mungkin akan lebih tinggi dari sebelumnya. Kita juga harus mempersiapkan sejak dini tenaga - tenaga terampil dari sekitar kita. Masih tersedia waktu yang cukup untuk mempersiapkan sdm - sdm tempatan di bidang itu nantinya. Belum terlambat untuk saling mengingatkan dan mengubah cara pandang kita. Rasa optimisme dikalangan kita harus segera dibangkitkan bahwa pembangunan ini nantinya akan membawa sebesar - besar kemakmuran dan kesejahteraan buat masyarakat Peranap jika kita siap.
Demikianlah barangkali sedikit buah pemikiran dari saya. Semoga tulisan ini dapat lebih membuka mata dan wawasan kita sebagai jatidiri Peranap dalam menyikapi pembangunan oleh pemerintah..
Langganan:
Postingan (Atom)
