Beberapa waktu yang lalu, sebagian masyarakat Peranap kembali disibukkan dengan kasak kusuk tentang akan segera dimulainya pembangunan tahap awal PLTU. Setelah sekian lama tak terdengar, kabar ini kembali beredar.
Saya mengamati tanggapan masyarakat amat beragam. Ada yang masa bodoh. Ada yang sibuk membersihkan dan mengukur ulang tanah mereka yang di prediksi bakal terkena proyek ini, tentu saja sambil berharap ganti rugi. Ada pula yang sibuk membeli tanah warga lainnya. Sebagian lainnya malah tidak yakin dalam waktu dekat ini akan terlaksana, mengingat kabar seperti itu sudah amat sering beredar. Entahlah..
Namun yang agak ganjil adalah hampir tidak terdengar masyarakat mempersiapkan sumber daya manusia yang handal dalam menanti proyek ini. Nyaris tidak ada kabar warga menyekolahkan putra - putri mereka ke sekolah ataupun perguruan tinggi di bidang pertambangan dan energi sejak pertama kali kabar mengenai batubara dan PLTU ini diketahui masyarakat. Padahal potensi kandungan batubara di perut bumi Peranap demikian besar. Jika memang nanti selain mengeksplorasi cadangan batubara nya, pemerintah juga membangun PLTU untuk kebutuhan listrik sumatera bagian timur itu benar - benar terwujud, maka dipastikan akan menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit jumlahnya dan tentu saja dalam jangka waktu yang lama.
Cukup puaskah kita hanya menerima sekedar ganti rugi? Lalu menjadi penonton di lapangan sendiri. Ataukah kita hanya perlu berharap dapat "menumpang kerja" di proyek itu pada jenis pekerjaan kasar yang tidak terlalu membutuhkan skill dan keterampilan?
Kalau demikian adanya, maka tujuan pembangunan yang diharapkan pemerintah yakni menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat tidak akan tercapai.
Semestinya masyarakat lebih jeli menangkap peluang dalam setiap tahapan pembangunan yang dicanangkan pemerintah.
Kita semestinya jangan terbuai oleh harga tanah dan sewa rumah yang mungkin akan lebih tinggi dari sebelumnya. Kita juga harus mempersiapkan sejak dini tenaga - tenaga terampil dari sekitar kita. Masih tersedia waktu yang cukup untuk mempersiapkan sdm - sdm tempatan di bidang itu nantinya. Belum terlambat untuk saling mengingatkan dan mengubah cara pandang kita. Rasa optimisme dikalangan kita harus segera dibangkitkan bahwa pembangunan ini nantinya akan membawa sebesar - besar kemakmuran dan kesejahteraan buat masyarakat Peranap jika kita siap.
Demikianlah barangkali sedikit buah pemikiran dari saya. Semoga tulisan ini dapat lebih membuka mata dan wawasan kita sebagai jatidiri Peranap dalam menyikapi pembangunan oleh pemerintah..